Friday, 7 March 2025

Loba - Korelasi Tiga Jurnal Utama Perpajakan

[lo-ba: a selalu ingin mendapat (memiliki) banyak-banyak; serakah, tamak (KBBI)]

Jeanine (Kate Winslet) dalam Divergent (2014) berkata bahwa sifat manusia adalah kelemahan yang harus dihilangkan agar tercipta kedamaian yang abadi. Menurutnya, kaum Abnegation (penolong tanpa pamrih) tak layak memimpin suatu fractions, seharusnya Erudite (para jenius) lah yang harus mengatur segalanya.

Benarkah demikian? Di film itu sih jawabannya tidak. Para jenius itu memiliki tendensi untuk mengeliminasi orang-orang yang menghalangi cita-citanya dan tamak terhadap kekuasaan.


Esai ini akan membahas keterkaitan antara ketiga jurnal berikut:

Author

Desai, Dick, & Zingales (2007)

Desai, Dharmapala (2009)

Hanlon, Hoopes, & Shroff (2007)

Judul

Theft and Taxes

Earnings Management, Corporate Tax Shelters, and Book–Tax Alignment

The Effect of Tax Authority Monitoring and Enforcement on Financial  Reporting Quality

Desai, Dick, dan Zingales (2007), selanjutnya akan kita sebut sebagai jurnal pertama, membahas tentang interaksi antara pajak perusahaan dan tata kelola perusahaan. Sedangkan Desai dan Dharmapala (2009), selanjutnya kita sebut sebagai jurnal kedua, menganalisis tentang hubungan antara pendapatan manajemen dan penghindaran pajak yang dilakukan perusahaan serta implikasi bagaimana pembuat kebijakan harus bersikap terhadap laporan keuangan yang disajikan perusahaan. Sementara Hanlon, Hoopes, & Shroff (2007), selanjutnya kita sebut sebagai jurnal ketiga, membahas hubungan antara penegakan hukum pajak dengan kualitas laporan keuangan.


Bahasan ketiganya tampak beririsan sebagaimana diagram di atas. Jurnal ketiga manghasilkan simpulan yang konsisten dengan yang disampaikan Desai et al (2007) pada jurnal pertama yang sama-sama menyetujui bahwa memang pemerintah (khususnya otoritas pajak) harus menyediakan mekanisme pengawasan terhadap para insiders yang mengambil keuntungan dari pilihan manipulasi pembuatan laporan keuangan. Jurnal pertama sendiri mengetengahkan kesimpulan atas penelitian sepanjang 1979-1997 yang memberikan gambaran bagaimana sikap perusahaan terhadap pengawasan otoritas pajak. Yang pertama, semakain tinggi tarif yang ditetapkan, semakin buruk tata kelola/ sikap yang diambil manajemen. Simpulan yang kedua, kualitas manajemen berperan penting dalam menentukan sensitivitas besaran basis penghasilan kena pajak sebagai imbas atas perubahan tarif pajak.

Jurnal kedua berhubungan dengan jurnal pertama di bagian peran manajemen dalam mengelola laporan keuangan. Jurnal ini menjawab rasa penasaran para shareholder mengenai “kemana larinya penghematan hasil tax avoidance yang setengah mati dilakukan oleh manajemen perusahaan saya?” Jawabannya sudah bisa ditebak bahwa sebenarnya yang manajemen usahakan itu bukan untuk ditransfer sebagai earning per share atau value added yang lain tetapi akan dimanipulasi lagi untuk meningkatkan keuntungan pribadi para manajer. Solusi dari jurnal ini diberikan alternatif untuk membuat penyatuan antara akuntansi pajak dan komersil sehingga bisa mengurangi biaya kepatuhan dan menurunkan tarif pajak. Dengan stimulus tersebut, perusahaan akan dengan sukarela berbondong-bondong membayar pajaknya.  Solusi jurnal kedua ini juga bisa didapat dari jurnal ketiga yang menghendaki agar otoritas pajak sebagai shareholder minoritas memiliki mekanisme pengawasan yang tepat terhadap pelaporan pendapatan demi menghindari pengurasan berlebihan dari oknum manajemen yang serakah.

Benang merah dari ketiga jurnal ini terletak pada fakta bahwa ada sekelompok orang serakah yang akan membuat tata kelola yang tidak baik pada perusahaan sehingga laporan keuangan dan pajak yang dihasilkan tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Pemerintah perlu megintervensinya dengan mekanisme yang tepat.


Idealnya sih kita memerlukan para manajer dari kaum abnegation, para penegak hukum dari kaum candor, para pekerja dari kaum amity, pembuat kebijakan dari kaum erudite, dan aparat dari kaum dauntless. Posisi kita (DJP) adalah para pembuat kebijakan. Bisakah kita membuat regulasi ya

Bayang-bayang

 

gambar diambil dari (@didoet_slowly) / X

Bunyi gemeretak hp ku sampai didengar orang-orang yang sedang menikmati makan siangnya di plasa mahasiswa ini. Bukan, bukan karena ada pesan masuk, tapi karena kugenggam erat-erat sampai keypadnya seperti mau lepas.

Kuterapkan saran buku-buku pengendalian ESQ untuk mengambil wudhu, “ah, sudah, ini juga sedang hujan deras, tapi kenapa kepalaku masih terasa panas?” Sambil memandangi genangan air yang mulai meninggi, aku mencoba mereka ulang kejadian beberapa jam yang lalu, berusaha mencari celah untuk tidak meneruskan kemarahanku.

Andy adalah temanku, setidaknya ia orang yang sering kutemui karena memang kamar kami berseberangan. Hari ini, dia disanjung-sanjung banyak orang di jejaring sosial tanpa kutahu apa penyebab pastinya. Setengah jam kemudian, kudapati seseorang mengolok-olokku karena rahasiaku yang biasa kubagi kepadanya, jadi bahan gunjingan orang-orang.

Meledaklah aku dengan wajah pias, antara malu dan marah. Ya Allah, tega sekali dia.

***

Aku takut, kejadian itu terulang lagi. Semester lalu, seorang yang membuatku sangat kesal, kecelakaan karena motornya tak bisa berhenti di lampu merah perempatan bintaro plasa. Tiga bulan lalu, seseorang yang lain, seusai membuatku sangat malu di depan dosen, harus opname karena demam berdarah saat menjelang ujian akhir semester. 3 minggu penuh, padahal tiga kali absen kuliah, bisa DO di kampusku, apalagi ini sakitnya saat ujian. Beruntung kami menyelamatkan status mahasiswanya dengan menguruskan ijin cuti setahun untuknya.

Kami? Ya, kami.

Aku mulai merasa bahwa ada yang aneh dengan diriku dan kejadian yang menimpa orang-orang yang kubenci, atau sekedar terhadap orang yang membuatku marah walau hanya sesaat. Sehingga, ketika penyesalanku datang, kupikir perlu untuk berbuat sesuatu sebagai pengurang rasa bersalahku.

***

Kelulusan SMA adalah masa paling dinanti, yang menjadi rangkaian peristiwa penting dalam mengubah status “siswa” menjadi “mahasiswa”.  Biasanya momen itu dirayakan dengan penuh sukacita. 3 tahun lalu, aku pun juga begitu. Kelas kami mengadakan perpisahan di sebuah vila di pegunungan. Setiap orang sekamar berdua saja. Tentu aku memilih sekamar dengan sahabat baikku, Raihan.

Raihan berperawakan tinggi kurus, sama sepertiku. Kacamatanya oval sederhana, minus 1, sama sepertiku. Rambutnya selalu pendek dan tak pernah disisir, sama juga sepertiku. Ia lebih suka melamun, jadi akulah yang selalu mengambil inisiatif memulai percakapan. Kalau dipikir-pikir selama 3 tahun terus sebangku dengannya, semua sifatnya hampir mirip denganku kecuali ia yang jago Biologi dan pelajaran hafalan lainnya sedang aku tidak.

Sejak berangkat kemarin, kurasa, dia semakin aneh. Berbicara pendek-pendek dan kerap berlama-lama memandangi langit. Yang membuatku merinding adalah, ia gemar bercerita soal makhluk halus. Tahu saja ia, apa yang mampu membuatku berteriak histeris sambil memohon-mohon untuk tidak meneruskan ceritanya. Malam hari sebelum pulang, ia mengajakku cari jagung bakar di dekat vila.

“Apa kau takut dengan hantu?”

“Tidak jika hantunya kau”, aku menjawab sekenanya karena kesal ia berbicara tentang hal itu sepanjang hari. Sempat kulihat ia tersenyum tanpa kutahu apa maksudnya.

“Oke, besok-besok, kalau kau butuh aku, pejamkan matamu dan lihatlah, aku ada di sisi kirimu.”

“Dasar korban sinetron!”

***

Raihan mengalami kecelakaan motor seminggu setelah pulang dari perpisahan SMA.

Di sekolah, kami berkumpul lagi, bukan untuk ikut pelajaran lagi, tapi untuk berangkat takziah bersama. Kulihat teman-temanku sebagian besar menangis tersedu-sedu dan sisanya ,tidak, karena pingsan. Aku? Aku tak tahu harus berekspresi apa menghadapi kenyataan bahwa sahabat terbaikku harus melanggar janji untuk sering reuni setelah kuliah nanti.

Belakangan ketika emosiku agak stabil, aku berpikir bahwa rupanya Alloh lebih mencintaimu. Aku iri untuk sejenak, dan rasa ini selalu sukses membuatku menangis meraung-raung seperti anak kecil.

***

Ia masih selalu ada di sekitarku, tak dapat kulihat tapi dapat kurasakan saat aku marah dan memandang ke sisi sebelah kiri. Lalu esoknya, kudapati orang yang tak kusukai mendapat sebuah musibah, atau kesialan, yang amat menyakitkan. 3 tahun terus seperti ini.

Kumohon, jangan seperti ini. Kumohon, aku ingin kau tenang dan kumohon, biarkan aku menyelesaikan masalahku sendiri.

Sekarang, tak henti-hentinya aku mengucap istighfar sambil menghadapkan wajahku ke kanan.  Hujan deras mulai mereda, dan sebentuk awan putih menggantikan sedikit awan hitam tebal yang masih tersisa.

Di kejauhan kulihat Andy dan sekelompok mahasiswa kelas praktikum keluar dari lab sambil tertawa terbahak-bahak, dan di samping kiriku, seseorang mirip aku, berkacamata oval minus 1 sedang mengawasiku, dan temanku itu. 

Tuesday, 24 October 2023

Merekam Turki Melalui Bosphorus Cruise

Selat Bosphorus dari
atas jembatan

Bunga-bunga mulai bermekaran di sepanjang perjalanan dari Bandara Istanbul. Meskipun sebagian besar bunga yang ditanam di pinggir jalan bukanlah bunga tulip, bunga nasional Turki, tetapi keberadaannya cukup memanjakan mata. Bunga tulip baru bisa saya jumpai bermekaran di Sultanahmet Square dan Istana Topkapi. Di awal bulan April, yang seharusnya sudah masuk pertengahan musim semi, udara masih terasa dingin. Saya tidak berlebihan mengatakannya karena walaupun saya berpotensi bias karena sehari-hari terbiasa menikmati suhu terik di Jabodetabek, tetapi sebagian besar orang lokal saat itu juga mengenakan outfit jaket tebal – yang meskipun begitu tetap terlihat stylish – berbeda dengan saya yang tampak amburadul ketika memakai jaket tebal, syal, dan kupluk.

Perjalanan saya di Turki tidak panjang. Bahkan bisa dibilang saya hanya mampir sebentar selama dua hari satu malam. Oleh karena itu, pihak travel hanya menyusun agenda di sekitar Istanbul saja. Namun, tetap saja bagi saya, perjalanan singkat itu terasa sangat berkesan. Salah satu hal yang paling berkesan adalah Bosphorus Cruise. Pemandu wisata kami menyebutkan bahwa Bosphorus dapat dikatakan sebagai salah satu tempat paling penting dan bersejarah bagi Turki.

Tuesday, 22 March 2022

Pesona Pariaman di Pantai Gandoriah dan Pulau Angso Duo

Kota Pariaman yang terletak sekitar 56 km dari Kota Padang (Ibukota Provinsi Sumatera Barat) lebih mendunia dengan Festival Tabuik-nya. Pesta budaya ini setiap tahunnya dirayakan dan telah dimasukkan ke dalam kalender pariwisata tahunan Pariaman sejak 1982. Rangkaian acara Tabuik dihelat mulai dari tanggal 1 Muharram hingga mencapai puncaknya pada 10 Muharram. Alangkah serunya apabila kita bisa melihat langsung festival tersebut. Akan tetapi apabila kita tak beruntung berkunjung ke Pariaman di tanggal tersebut, jejak kemeriahan festival tersebut dapat Anda temukan dengan berkunjung ke dua rumah museum Tabuik: Subarang dan Pasa. Pusat perayaan Festival Tabuik Pasa sendiri berada di Pantai Gandoriah yang mana Tabuik akan dilarung ke laut lepas.

Saturday, 6 March 2021

Peran Media Sosial terhadap Perbaikan Layanan Kereta Api

Judul tulisan ini tampak terlalu serius seolah-olah saya ingin membuat sebuah esai ilmiah. Padahal sebenarnya saya hanya ingin menceritakan pengalaman yang berkesan ketika kemarin (050321), akhirnya, berkesempatan kembali untuk menikmati kereta api (moda transportasi favorit saya) setelah sekian kali booking-cancel di aplikasi pemesanan. Hal ini tidak lain karena bepergian di kala pandemi telah meningkatkan level kecemasan saya ke tingkat maksimal.

Meskipun demikian, urusan perbaikan layanan untuk perusahaan BUMN sejatinya bukanlah urusan sepele. Selain pihak manajemen internal, pihak pengguna dapat memberikan feedback positif demi tercapainya service excellent.

Friday, 12 February 2021

Kegagalan yang Manis

Kita sadar bahwa terbit dan terbenam adalah sunnah kehidupan. Tidak ada yang abadi selain Allah. Namun, jika pun kita harus lenyap suatu saat nanti, pastikan kita menjadi uswah (teladan) bagi orang lain, bukan ‘ibroh (pelajaran) bagi mereka. (https://www.hidayatullah.com/)

Disclaimer: ini adalah sudut pandang dan idealisme versi penulis. Semoga ada yang mendapat sesuatu dan tidak ada hati yang tersakiti setelah membaca ini.

Banyak orang bersedih ketika tidak mendapatkan apa yang diimpikannya, termasuk saya. Beberapa orang memerlukan waktu cukup lama untuk sembuh, sementara beberapa yang lain membiarkan air matanya mengalir sambil berjalan tertatih ke arah yang lain. Saya termasuk golongan yang kedua. Meskipun demikian, tak dapat dipungkiri bahwa kegagalan atas sebuah perencanaan yang panjang dan matang tetaplah menyakitkan. Kemudian sampai pada suatu waktu, kita akan melihat ada banyak hal baik di balik kegagalan itu. Ternyata, rencana yang kita anggap sempurna itu menyimpan banyak lubang yang hanya mampu Allah lihat. Melalui kasih sayang-Nya lah kita akhirnya bisa melihat bahwa hidup kita akan lebih baik jika kita berbelok sedikit dari angan-angan.

Tuesday, 29 September 2020

Perbedaan Laporan Auditor Independen Indonesia dan Amerika

Pandemi (semestinya) mengubah perilaku banyak orang. Yang tadinya suka ngopi di kafe, sekarang ngopinya lewat go/grabfood. Banyak juga yang bereksperimen bikin kopi sendiri pakai alat yang kemarin dibeli di shopee.

Perubahan perilaku itu juga berimbas pada pemilik blog ini. Saat keluar kota pun saya tak punya keinginan untuk mengeksplor tempat wisata di daerah tersebut meskipun daerahnya masih masuk zona hijau. Jangankan mendatangi kerumunan massa di tempat wisata atau wisata kuliner khas kota setempat, tidur di hotel saja was was.

Saya pun menyadari, bahwa nama blog ini adalah pnsbackpacker. Seharusnya tulisan di blog ini tidak melulu tentang jalan-jalan saja, tetapi juga tentang PNS.

Kebetulan saat ini saya sedang menempuh tugas belajar (sebagai ASN) di UGM. Jadi, izinkanlah saya menulis tentang sesuatu berkaitan dengan apa yang saya pelajari ya.


Here is the comparison between 2019 Independent Auditors’ Report of Garuda Indonesia (Persero) Tbk (listed in Indonesia Stock Exchange as GIAA) and American Airlines Group Inc (listed in New York Stock Exchange as AAL).

I choose both GIAA and AAL since both companies have the similar business process and both companies are national pride airline in Indonesia and US.

sumber: skytraxratings.com
sumber: thepointguy.com

GIAA was audited by PWC Partner, meanwhile AAL was audited by KPMG Partner. GIAA Auditors' Report was taken from www.idx.co.id titled Signed FS GIA Consol 1219 and AAL Auditors' Report was taken from https://americanairlines.gcs-web.com/financial-results/financial-aal

 

Comparison of Independent Auditors’ Report

No

Part

GIAA (Audited by: PWC partner)

AAL (Audited by: KPMG partner)

Comments

1

The report structure

a.   The title and the address of audit report

b.   Management responsibility

c.   Auditor’s responsibility

d.   Opinion

e.   Emphasis of the matter

f.    Place, Date, Sign of Partner, Name and Register Number

a.    The title and the address of audit report

b.    Opinion

c.    Change in Accounting Principle

d.    Basis for Opinion

e.    Critical Audit Matter

f.      Sign, Partner, Additional information (audit partner since yyyy), Place, Date

The report structure is definitely different. In GIAA audit report, auditor precede management and auditor responsibility over the opinion. Meanwhile in AAL audit report, auditor stated opinion first then change in accounting principle and then basis for opinion. Management and auditor’s responsibility stated in Basis for Opinion paragraph. In AAL audit report, auditor also emphasize Change in Accounting Principle since the Company has changed its method of accounting for leases

2

The title

Independent Auditors’ Report

Report of Independent Registered Public Accounting Firm

 

Not different in substance

3

The address of the audit report

to the Shareholders of PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk

to the Stockholders and Board of Directors

American Airlines Group Inc

Not different in substance but AAI’s audit report is also destined to the BOD

4

Introduction Paragraph

Only state that the auditor has audited consolidated financial position (and other FS) as at 31 Dec 2019

the financial position of the Company

as of Dec 31, 2019 and 2018, and the results of its operations and its cash flows for each of the years in the three-year period ended December 31, 2019

In AAL Audit report, auditors clearly stated that they audit not only one year, but 2 year simultaneously. Maybe it is happened because the auditor audit AAL since 2014.

5

Scope Paragraph

Performed in Auditor’s Responsibility paragraph

Performed in Basis for Opinion

Not different in substance

6

Opinion Paragraph

Opinion paragraph consist of opinion of financial statement only

Opinion paragraph consist not only opinion of financial statement but also statement that auditor have audited the

Company’s internal control over financial reporting as of December 31, 2019, based on criteria established in Internal Control – Integrated

Framework (2013) issued by the Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission

AAL auditor added this statement in accordance with the standards of the Public Company Accounting Oversight Board (United States) (PCAOB)

7

Name of Audit Partner

Clear name partner, sign, and License Number of Public Accountant

Only Sign

Maybe I download the different version of AAL audit report. But GIAA audit report with clear name of partner seems more trustworthy

8

Additional Information

NA

Statement that the partners have served as the Company’s auditor since 2014

AAL auditor want to emphasize that they continuously audit the company

9

Date and Place

Stated

Stated

Similar

10

Opinion Standard

Indonesian Financial Accounting Standard

U.S. generally accepted accounting principles

Not different in substance

11

Auditing Standard

Standards on Auditing established by the Indonesian Institute of Certified Public Accountants.

PCAOB in general but specifically stated based on U.S. federal securities laws and the applicable rules and regulations of the

Securities and Exchange Commission and the PCAOB

Not different in substance